Selasa, 05 Juli 2011

Kawin Kontrak, Dibenci Tapi Juga Disukai

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Ilustrasi: Warga menikmati indahnya pemandangan alam di kawasan Puncak Pass, Jawa Barat, saat mereka istirahat dari berkendara, Minggu (4/4/2010). Keindahan alam di kawasan itu menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang untuk mengisi liburan.

Bogor, Indonesia (News Today) - Pro-kontra mengenai kawin kontrak yang masih berlangsung di wilayah Puncak, Jawa Barat hingga kini terus menjadi perdebatan. Sebagian pihak menilai praktik tersebut tidak merugikan, karena wanita menjalani kawin kontrak tingkat perekonomiannya terbantu. Tapi, di sisi lain kawin kontrak justru lebih banyak merugikan masyarakat, terutama wanita.

"Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan kawin kontrak ini. Coba bayangkan, banyak wanita yang umurnya masih muda sudah dikawinkan orangtuanya hanya karena untuk mendapatkan uang. Padahal setelah itu, anaknya jadi janda karena ditinggalkan suaminya," ujar Sony H, warga Kelurahan Cisarua.

Wanita yang menjalani kawin kontrak dipaksa harus menikah dalam usia yang masih muda, yakni usi 16-18 tahun. Kerugian lainnya, wanita muda itu harus menjadi seorang janda saat pria yang mengawininya pulang ke negara asalnya. Namun demikian, meski terjadi pro kontra soal kawin di daerah Puncak tidak memengaruhi kedatangan warga negara asing (WNA) ke kawasan berhawa sejuk ini.

Umumnya WNA yang banyak melakukan kawin kontrak di daerah itu berasal dari Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak dan termasuk Turki. Bahkan turis asing memiliki komunitas di kawasan ini, termasuk soal kawin kontrak. Masih tumbuh suburnya praktik kawin kontrak ini tidak lepas dari peran makelar atau calo yang banyak menyediakan wanita muda untuk dijadikan sebagai istri siri dan melakukan kawin kontrak.

Para wanita yang disiapkan untuk kawin kontrak didatangkan dari pelosok-pelosok kampung di wilayah Kabupaten Bogor, seperti kelurahan Cisarua, Desa Tugu Selatan, Tugu Utara, di Kecamatan Cisarua. Tidak sedikit pula calo kawin kontrak mendatangkan wanita untuk dikawini WNA berasal dari wilayah Cianjur, dan Sukabumi.

Wanita yang disiapkan untuk kawin kontrak umumnya dipilih dari keluarga yang tingkat prekonomiannya rendah. Dengan iming-iming mulai dari Rp 5 juta-Rp 20 juta yang ditawarkan makelar, para orangtua rela melepas anaknya untuk dikawini oleh para turis asing itu, meski hanya dalam waktu antara dua-tiga bulan saja, atau selama para turis itu berlibur di Indonesia.

Para orangtua berasalan, lebih baik anaknya dikawini secara kontrak oleh turis asal Timur Tengah itu daripada tidak bekerja dan hanya berdiam diri di rumah. "Anak saya sudah enggak melanjutkan sekolah, enggak juga bekerja. Ya sudah dinikahkan saja, minimal bisa membantu keuangan keluarga," ujar Ah (50), warga Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, yang sempat menikahkan anak ketiganya dengan seorang turis asal Arab Saudi.

Meski sekarang anaknya itu sudah menjadi janda karena kawin kontraknya sudah berakhir, Ah mengaku tidak menyesal. "Di kampung mah gampang, tinggal nikah lagi aja," ucapnya polos.

Meski lebih banyak merugikan wanita, bagi Sus (24), warga Cigombong, Kabupaten Bogor, kawin kontrak yang dilakukannya adalah untuk menyambung hidup. Sus yang saat ini tengah mengandung tiga bulan, terpaksa melakukan kawin kontrak hanya untuk mendapatkan uang.

"Ini bukan janin dari orang Arab, ini hasil hubungan saya dengan pacar saya. Tapi memang saya dikontrak oleh lelaki Arab selama satu minggu dengan bayaran Rp 7 juta," ujar Sus.

Dia mengaku meski tengah hamil tiga bulan rela melayani tamu asal Timur Tengah, karena untuk kebutuhan hidup. "Bayaran Rp 7 juta per minggu itu, saya hanya dapat setengahnya, karena dipotong mami (germo)," katanya.

Sementara itu De (22), warga Cibeureum, Cisarua, Kabupaten Bogor mengaku, dirinya tidak melakukan kawin kontrak seperti yang dilakukan Sus.

Diakui, dirinya hanya melayani tamu Arab yang dibayar Rp 700.000 sekali kencan atau Rp 2,5 juta untuk satu hari.

"Biasanya saya hanya menemani turis Arab selama seminggu. Ada juga yang mau bayar hanya kencan sehari. Tergantung gimana pembicaraan awal. Uang hasil transaksi, selalu diambil 40 persen sama mami," kata De, yang mengaku, ingin berubah dan memiliki suami resmi dan kembali hidup secara normal.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 06 Jul, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/07/kawin-kontrak-dibenci-tapi-juga-disukai.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar